Selasa, 06 April 2010
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
-bukan bikinan vivi,, artikel ini cuma vivi repost,, krn punya makna yg bagus ^_^ -
Sabtu, 03 April 2010
berawal dari "kamu".. yg selanjutnya untuk "kamu".. karena membuatku tersenyum.. =)
0 komentar Diposting oleh Vivi,,, di 10:13:00 PMdan ini untuk "kamu"...
karena "kamu" membuatku tersenyum.. =)
_meskipun [katanya] awalnya cuma iseng hihihi,,_
Kamis, 18 Februari 2010
entah bagaimana bisa memulai,,
entah bagaimana bisa hadir di sini..
dua sosok yang selalu beradu..tak sepaham,, tak sejalan..
selalu bertolak belakang..
selalu bersaing untuk saya menurut salah satu dan berkata "iya juga..."
mereka hadir saat saya tidak dalam lingkaran dalam garis yang utuh..
atau mungkin dari sisi saya yang hanya menyadari keberadaan mereka saat saya tak bisa menjentikan jadi dalam waktu singkat..
mereka menyapa,, berputar dan menari dengan lembut hingga tanpa saya sadari mereka begitu kerasan berada di sini... saling memaki,, saling menasehati,, saling membelai,, namun tak satu milimeter pun mereka dalam garis yang sama...warna yang sama...pegangan yang sama,, bahkan mungkin dimensi yang berbeda...
okay... setidaknya saya jadi tahu lebih dalam makna goresan hitam dan putih.. yang terilustrasi dalam sosok berjuba dan sosok bersayap..
untuk saat ini masih nampak nyata antara hitam dan putihnya.. meski terkdang muncul warna favorit kekuatan palsu tergambar asli si abu-abu,,
berharap semuanya tetap melaju pada lajur masing-masing tanpa adanya sintesi, penambahan warna, ataupun suatu revolusi tak terkendali akibat mutasi gen tak tergapai...
karena mungkin saya butuh sebuah freezer berkapasitas 3-5 kg yng dapat menampung sementara jantung, hati, bahkan otak saya untuk berhibernasi tanpa harus memilih...
Kamis, 21 Januari 2010
Ada:
Minggu, 10 Januari 2010
hari yg sama,, seperti hari2 sebelumnya..seperti minggu2 sebelumnya..
tapi
ada nada di sana..
ada warna di sana..
ada gelombang di sana..
ada hentakan di sana..
ada detakan di sana..
ada tetesan di sana..
dan
ada kejujuran di sana..
ada ketegasan di sana..
ada pembelajaran di sana..
daun bercermin..
semoga,,
ada berbagi di sana..
ada ketulusan di sana..
ada keikhlasan di sana..
karena ada kenyamanan & SENYUMAN di sana..
=)
Nuansa Bening
Oh, tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja…
Waktu perkenalan terjalin sudah
Ada yang menarik pancaran diri
Terus mengganggu
Mendengar cerita sehari-hari
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan
Oh, tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja…
Masa perkenalan lewatlah sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi
Dirimu nuansa-nuansa ilham
Hamparan laut tiada bertepi
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku
Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercintaSelasa, 05 Januari 2010
kenapa meringis saat mereka menari,,
kenapa menutup mata saat mereka tertawa..
kenapa menutup mulut saat mereka bertanya,,
kenapa menangis saat mereka berlari dan berlompat,,
terbisik dalam hati,.,.,.,
ingin menari seperti mereka,,
ingin tertawa seperti mereka..
ingin menjawab pertanyaan mereka,,
ingin berlari dan melompat seperti mereka,,
tertuang dalam langkah,.,.,
belum bisa menari seperti mereka,,
belum bisa tertawa seperti mereka..
belum bisa menjawab pertanyaan mereka,,
belum bisa berlari dan melompat seperti mereka,,
terucap dalam bernak,.,.
meringis, menutup mata & mulut bukan menangis,,,
si pemilik raga hanya ingin
menatap merka menari, tertawa, bertanya, berlari dan melompat..
dengan satu senyuman..
mari merajut.. _lho?_





